Pasang Iklan Anda Sekarang!

Main Menu Bar

Lembaga Keuangan Syariah RI Tertarik Berinvestasi di Filipina

Wednesday, January 16, 2019
Lembaga Keuangan Syariah RI

(Sumber: Shutterstock)

Negara ini ingin mengembangkan industri halal di Pulau Mindanao.

Dream – Filipina terus mendorong rencana pengembangan untuk minoritas Muslim di Pulau Mindanao. Otoritas Pengembangan Mindanao (MinDA) mengincar lembaga keuangan syariah untuk mendanai pengembangan dan industri halal di daerahnya.

“ Ada minat dari lembaga keuangan syariah untuk mendukung, khususnya sektor pertanian dan industri halal di sini,” kata Kepala Divisi Urusan Publik MinDA, Adrian Tamayo, di Davao, Filipina, dikutip dari Gulf Times, Rabu 16 Januari 2019.

Tamayo mengatakan pembiayaan dari lembaga keuangan syariah bergantung kepada regulasi yang tepat untuk sektor ini di Filipina. Regulasi itu masih menanti banyak pemangku kepentingan.

Untuk merilis instrumen keuangan syariah seperti sukuk, kerangka kerja hukum dan peraturannya harus ada terlebih dahulu.

“ Kalau disetujui oleh kongres, dewan moneter bank sentral Filipina bisa mengizinkan bank syariah. Ini juga dapat memberikan wewenang kepada bank konvensional untuk terlibat dalam pengaturan perbankan syariah, termasuk struktur dan transaksi, melalui unit bank syariah yang ditunjuk,” kata dia.

Tamayo mengatakan lembaga keuangan syariah dari Timur Tengah dan Indonesia ingin masuk ke Mindanao setelah disahkan Undang-Undang Otonomi Bangsa Moro yang disahkan pada 2018. Regulasi keuangan syariah ini akan melengkapi beleid itu dan mendorong lembaga keuangan syariah berbisnis di Minadanao.


Menurut regulasi perbankan tahun 1994, bank asing dan lembaga keuangan bisa beroperasi di sana, tapi itu tak menarik perbankan syariah. Sebab, tak ada aturan keuangan syariah yang jelas. Perbankan syariah di Filipina dimonopoli oleh bank syariah pelat merah, Al Amanah.(Sah)

Alasan Pemerintah Cari Pembiayaan Syariah untuk Pengembangan Industri Halal Mindanao

Tamayo juga mengatakan perbankan konvensional asing biasanya fokus untuk mendanai proyek-proyek besar, seperti Metro Manila. Mereka tak menjamah Mindanao dengan alasan masalah keamanan, kelayakan finansial, dan pasar yang kecil.

Dengan adanya kerangka kerja untuk bank syariah, dia optimistis dana dari lembaga keuangan syariah dan investor bisa masuk. Dikatakan bahwa bank dan investor dari Brunei juga melirik Mindanao.

Sekadar informasi, daerah ini dibidik untuk dijadikan pengembangan industri halal. Dewan Sertifikasi Halal Muslim Mindanao menjadi satu-satunya pemberi sertifikat halal resmi dan terakreditasi di Filipina.

Pemerintah di sana membentuk Zona Ekonomi Khusus Zamboanga untuk zona pengolahan halal. Zona ini dipromosikan untuk investor asing. Kota Cotobato di Mindanao juga dikembangkan jadi pusat makanan halal.

Sumber : Dream.co.id
Lembaga Keuangan Syariah RI Tertarik Berinvestasi di Filipina Lembaga Keuangan Syariah RI Tertarik Berinvestasi di Filipina Reviewed by Wahana Ytube on Wednesday, January 16, 2019 Rating: 5

INI DIA UNSUR-UNSUR PENDORONG TOBAT

Wednesday, January 16, 2019




Oleh : H. Danni Nursalim Harun, Lc. Dipl. I.S.

Bismillâhirrahmânirrahîm. Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasûlullah beserta keluarga dan para shahabat beliau. Ammâ ba`d.

Kaum Muslimîn yang dimuliakan Allah.
Terkadang seseorang memerlukan dorongan yang kuat untuk melakukan sebuah perbuatan atau pekerjaan. Contohnya, seorang lelaki yang masih membujang mempunyai dorongan yang berbeda dengan lelaki yang telah berkeluarga dalam hal mencari nafkah. Demikian juga seorang pelajar atau mahasiswa mempunyai dorongan belajar yang berbeda dibandingkan mereka yang sudah tidak bersekolah lagi. Oleh karenanya tidak heran jika Allah Subhânahu wata`âlâ memberikan banyak dorongan kepada umat Islam untuk beriman dan beramal shalih, melalui ayat-ayat-Nya dan melalui hadîts-hadîts Nabi-Nya Shallallâhu `alaihi wa sallam.
Demikian juga dengan bertobat, terkadang seseorang memerlukan dorongan-dorongan yang kuat agar ia mau bertobat kepada Allah. Boleh jadi seseorang yang sudah berniat untuk bertobat lalu menunda-nunda niatnya tersebut karena ia belum menemukan dorongan yang kuat untuk bertobat. Bahkan jika ia malah menemukan unsur-unsur yang melemahkan dirinya untuk bertobat, ia akan urung bertobat sampai akhir hayatnya. Na`ûdzubillah. Untuk itu, marilah kita mengetahui unsur-unsur yang akan mendorong kita untuk mau bertobat kepada Allah, sebagai diterangkan Syaikh Muhammad Husein Ya`qûb hafizhahullah.
Pertama: Menasihati dan Mengingatkan Diri Sendiri
Hendaknya seorang muslim menetapkan hatinya untuk selalu menasihati dirinya sendiri, mencelanya ketika berbuat dosa, menyesal atas segala kebaikan yang terlewatkan, dan selalu mengingatkan diri bahwa kematian selalu mengintainya setiap saat. Katakanlah kepada dirinya sendiri, “Wahai jiwa, sungguh kematian akan datang tanpa disangka-sangka. Bertobatlah sebelum kematian menjemput…!” Ingatkan diri dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, keluarga, sahabat, tetangga dan siapapun yang telah pergi satu persatu tanpa ada peringatan sebelumnya. Siapkah kita menghadapi kematian?
Namun bukan kematian itu yang menakutkan. Karena kematian adalah hal yang pasti, tidak bisa dihindari. Hal yang perlu diwaspadai adalah hari setelah kematian tersebut. Allah Subhânahu wata`âlâ berfirman (yang artinya): “Pada hari ketika setiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” [QS. Âli `Imrân: 30]. Sungguh hari ini kita beramal tanpa pertanggungjawaban, sedangkan nanti di Akhirat hanya pertanggungjawaban tanpa ada kesempatan lagi bagi kita untuk menambah atau memperbaiki amalan kita.
Kedua: Menjauhkan Diri dari Tempat-tempat Maksiat
Rasulullah Shallallâhu `alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang akan mengikuti keyakinan temannya, maka hendaklah seseorang melihat dengan siapa ia berteman.” [Shahîh Al-Jâmi` 3539]. Sabda beliau: “Adapun teman yang buruk, ia bagaikan pandai besi yang mungkin akan membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan bau busuk darinya.” [HR. Al-Bukhâri 5534, Muslim 2628]. Ali ibnu Abi Thâlib berkata, “Jangan berteman dengan seorang pendosa, karena ia akan menggambarkan bahwa perbuatannya itu baik dan ia berharap dirimu akan sepertinya.” Sebagian ulama terdahulu berkata, “Janganlah engkau berteman dengan orang-orang jahat, karena sifatmu akan mencuri sifat mereka mereka tanpa engkau sadari.”
Hal yang sudah dimaklumi bahwa manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan teman dan lingkungan sekitar. Manusia dengan manusia lain atau dengan lingkungan sekitar selalu berada dalam posisi saling mempengaruhi. Dan inilah yang menjadi fokus perhatian Rasulullah Shallallâhu `alaihi wa sallam dan para ulama rabbani.  Salah satu langkah awal untuk bertobat adalah meninggalkan teman-teman yang buruk dan mencari teman yang baik. Selain itu, kita harus menjauhi tempat-tempat yang biasa dipakai berbuat dosa dan mendekatkan diri ke tempat-tempat yang dipakai untuk beribadah kepada Allah Subhânahu wata`âlâ. Kegagalan seseorang untuk bertobat dikarenakan dirinya masih tergantung dengan teman-teman  dan tempat yang buruk.




Ketiga: Mengobati Diri dengan Puasa dan Menutup Kesempatan untuk Berdosa
Sesungguhnya perut yang senantiasa kenyang lebih dekat kepada perbuatan buruk. Ketika ia merasa lapar, maka ia akan lemah dan keaktifannya menurun, sehingga ia lebih ingat kepada Rabb-nya dan menata diri untuk hanya melakukan hal-hal yang bermanfaat. Itulah salah satu rahasia sabda Nabi Shallallâhu `alaihi wa sallam: “barangsiapa yang belum bisa (menikah) maka hendaklah ia berpuasa. Karena sesungguhnya puasa itu perisai.” [HR. Al-Bukhâri 1905, Muslim 1400]. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Jauzi Rahimahullah, “Laranglah jiwa untuk menikmati hal yang mubah, agar ia lebih siap untuk meninggalkan yang haram…”
Sungguh Rasulullah Shallallâhu `alaihi wa sallam jika menginginkan dunia sebesar dan sebanyak apapun, hanya tinggal berdoa maka Allah memberikannya segera. Namun beliau dan mayoritas shahabatnya, lebih rela untuk hidup sederhana atau mungkin bagi sebagian kita hidup susah. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa dapur istri-istri Rasulullah Shallallâhu `alaihi wa sallam pernah tidak berasap beberapa hari karena tidak ada yang bisa dimasak. Bahkan beliau dan para shahabatnya pernah mengikatkan batu di perutnya untuk menahan rasa lapar.
Keempat: Mengurangi Waktu Kosong dengan Memperbanyak Ibadah
Jiwa kita selalu bekerja. Jika tidak bekerja untuk kebenaran maka ia akan bekerja untuk kebatilan. Penatkanlah jiwa anda dengan kebenaran sehingga ia tidak ada kesempatan untuk melakukan hal yang batil. Sibukkan diri untuk mencari ilmu, mengamalkan ilmu yang dipelajari sehingga penat menerpa. Kurangi volume istirahat jiwa agar tidak mempunyai kesempatan untuk melirik hal yang diharamkan. Ketahuilah, ketika jiwa sudah mencoba satu hal yang haram, ia akan terus tergoda untuk melakukannya lagi, dan menambahkannya. Namun jika jiwa sudah penat dengan ibadah kepada Allah, maka ia tidak lagi berselera untuk melirik hal yang haram, karena semua energi dan kekuatannya sudah terforsir untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Memperbanyak ibadah bukan berarti kita melupakan kewajiban kita sesuai posisi kita. Seorang suami tetaplah harus mencari nafkah. Seorang istri tetap harus mengurus rumah tangganya dan melayani suaminya. Seorang anak tetap harus berbakti kepada orangtuanya. Namun setelah itu, jangan berikan diri anda waktu untuk bersantai dan memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Selesai dari rutinitas, carilah majlis ilmu, bacalah buku-buku yang akan menambah pengetahuan kita akan agama, syari`ah dan semisalnya, perbanyak ibadah lainnya, sehingga waktu kosong anda adalah waktu bagi anda untuk mengistirahatkan diri anda di pembaringan.
Kelima: Selalu Mengingat Akhirat Sebagai Tempat Kembali
Mari kita perlihatkan jiwa kita tentang apa yang ada di akhirat nanti. Ingatkan betapa Nabi Shallallâhu `alaihi wa sallam dan para shahabatnya begitu mencintainya lebih dari apapun. Ingatkan betapa kenikmatan dunia ini tidaklah sebanding dengan kenikmatan akhirat. Allah Subhânahu wata`âlâ berfirman (yang artinya): “Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabîl. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untuk kalian, dan usaha kalian adalah disyukuri (diberi balasan).” [QS. Al-Insân: 14-22]
Ingatkan bahwa kenikmatan yang disebutkan ayat-ayat Allah hanyalah sebagai bentuk pendekatan saja. Maksudnya, bahwa kenyataan yang ada di surga lebih indah dan lebih nikmat daripada yang Allah Subhânahu wata`âlâ ceritakan, karena surga itu adalah, “Tidak pernah dilihat mata, tidak pernah di dengar telinga, dan tidak pernah terdetik dalam hati manusia.” Relakah jiwa kita menukar keindahan dan kebahagiaan abadi ini  dengan kebahagiaan yang sementara dan tidak seberapa?
Di sisi lain, ketika mengingatkan akan kenikmatan surga, ingatkan juga bahwa surga hanya dimasuki oleh orang-orang yang bersih suci dari segala dosa dan maksiat. Benar bahwa setiap yang bertauhid pasti akan masuk surga, tapi bagaimana caranya? Apakah tanpa hisab? Ataukah dengan melewati neraka untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang belum diampuni?
Keenam: Menghancurkan Berhala
Berhala manusia yang paling besar, yang terus disembah sampai sekarang ini adalah Hawa Nafsu. Allah Subhânahu wata`âlâ berfirman (yang artinya): “Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya?” [QS. Al-Furqân: 43]. Jika diperinci, maka berhala-berhala yang bertebaran pada masa kini sangat banyak, di antaranya: Riba, Zina, Bersolek, Memakan harta orang dengan batil, dan setiap hal yang diinginkan hawa nafsu dan dimurkai Allah adalah berhala masa kini. Hawa nafsu yang memburu adalah berhala yang sebenarnya. Oleh karena itu, Nabi Yûsuf `Alaihissalâm mengatakan (yang artinya): “Aku tidak akan sekali-kali membebaskan nafsuku. Sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali (nafsu) yang dirahmati Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Yûsuf: 53].
Tobat tidak akan pernah berhasil, sebelum berhala-berhala yang menguasai jiwa itu dihancurkan satu persatu. Karena selama berhala itu masih ada, jiwa akan selalu teringat dan tertarik untuk kembali menyembahnya, karena ia menyangka hal itu akan membawanya manfaat. Hancurkan pemikiran bahwa riba itu menguntungkan. Hancurkan pemikiran bahwa zina itu nikmat. Hancurkan pemikiran bahwa bersolek bagi wanita/tabarruj itu sebuah kemoderenan. Hancurkan semua yang disukai jiwa dan dimurkai Allah Subhânahu wata`âlâ! Sungguh berhala-berhala itulah yang senantiasa membuat jiwa kita lalai dari perintah Allah dan Rasul-Nya, serta menyebabkan kita melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya. Berhala inilah yang paling berbahaya, karena tidak nampak oleh mata dan tidak bisa dihancurkan kecuali oleh dirinya sendiri.
Mari kita simak sikap pendahulu kita, yang menunjukkan betapa mereka berpegang teguh dengan ajaran agama Islam. Diriwayatkan oleh Al-Laits ibnu Sa`d dan beberapa ulama lainnya, bahwa seorang lelaki datang kepada Ibnu `Umar Radhiyallahu `anhuma dan berkata, “Tolong tuliskan semua ilmu untukku.” Lalu Ibnu `Umar menuliskan padanya, “Sesungguhnya ilmu itu sangat banyak. Akan tetapi jika engkau bisa bertemu Allah dalam keadaan tidak berdosa karena mengalirkan darah manusia tanpa kebenaran, mengosongkan perut dari memakan harta manusia secara batil, menahan lidah untuk tidak melecehkan mereka, dan selalu bersama mereka dengan jamaah mereka, maka lakukanlah.” [Siyâru A`lâmin Nubalâ’ 3/222].
Subhânakallâhumma wabihamdika asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaihi

INI DIA UNSUR-UNSUR PENDORONG TOBAT INI DIA UNSUR-UNSUR PENDORONG TOBAT Reviewed by Wahana Ytube on Wednesday, January 16, 2019 Rating: 5

BERIKUT INI RUKUN-RUKUN TOBAT!

Wednesday, January 16, 2019


Oleh H. Danni Nursalim Harun, Lc. Dipl. I.S.

Bismillâhirrahmânirrahîm. Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasûlullah beserta keluarga dan para shahabat beliau. Ammâ ba`d.

Kaum Muslimîn yang dimuliakan Allah.
Setelah kita mengetahui alasan untuk bertobat, penghalang dan pendorong untuk bertobat, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak bertobat. Namun kadangkala seseorang yang ingin bertobat merasa bingung, bagaimana cara bertobat yang benar? Hal itu sama halnya dengan orang yang  ingin melaksanakan kewajiban shalat tapi ia belum tahu tatacara shalat yang benar. Apalagi jika ia melihat bahwa tatacara dari orang ke orang bervariasi, selalu ada perbedaan. Ketidaktahuan seseorang tentang tatacara bertobat menjadi salah satu penghalang baginya untuk bertobat.
Oleh karena itu, marilah kita mengetahui rukun-rukun tobat, sebagaimana telah diterangkan oleh para ulama, di antaranya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah dan lainnya.
Pertama: Ikhlâs Hanya Karena Allah Subhânahu wata`âlâ.
Ikhlâs adalah rukun semua ibadah. Bagaimanapun besarnya dan banyaknya ibadah seseorang, tidak akan diterima oleh Allah Subhânahu wata`âlâ jika tidak diiringi keikhlasan. Maksud Ikhlâs dalam bertobat ini adalah takut kepada Allah Subhânahu wata`âlâ, mengagungkan ajaran-Nya, takut terlempar dari rahmat-Nya pada hari kiamat, dan takut tidak bisa melihat wajah-Nya yang Mahamulia.
Ketika akan bertobat, hendaklah kita tinggalkan semua perbuatan maksiat kita, semua hal yang akan menimbulkan dosa, terutama dosa-dosa besar. Tinggalkan itu semua tanpa menunggu lebih lama lagi. Sesungguhnya jika kita berbuat dosa, kemudian kita berdoa kepada Allah Subhânahu wata`âlâ, “Ya Allah… Ampunilah dosaku…” Maka Allah yang Maha Pengasih akan membalas kita: “Tinggalkanlah perbuatan dosa tersebut, niscaya Aku akan mengampunimu…” Jangan berharap Allah akan mengampuni dosa kita, jika kita tidak meninggalkan dosa yang kita minta pengampunan dari-Nya.
Ketiga: Menyesal atas Dosa yang Diperbuat.
Sesungguhnya penyesalan akan didapatkan setelah meneliti dosa yang diperbuat, kemudian bandingkan betapa agungnya Allah Subhânahu wata`âlâ dengan semua nama dan sifat-Nya, serta betapa hinanya kita di hadapan-Nya. Untuk menghasilkan penyesalan atas dosa yang diperbuat, ada tiga unsur yang harus ditanamkan di dalam diri kita:
1. Mengetahui Allah. Sesungguhnya kita tidak akan menganggap remeh suatu dosa jika kita mengetahui kepada siapa kita berdosa. Terkadang seseorang takut hanya untuk meludah di hadapan seorang pejabat tinggi yang mempunyai kekuasaan besar. Sebaliknya kita tidak segan untuk membuang angin di hadapan anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Orang yang merasa tenang dengan dosanya, pada hakikatnya adalah orang yang tidak mengenal Allah. Sebagai contoh, jika seseorang tahu bahwa Allah Maha Keras Azab-Nya, apakah ia masih berani untuk berbuat dosa dengan sengaja walaupun kecil? Allah Subhânahu wata`âlâ berfirman (yang artinya): “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, Padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. Beginilah kalian. Kalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?” [QS. An-Nisâ’: 108-109]. 
2. Mengetahui diri sendiri, betapa buruknya perbuatannya. Demikianlah pengetahuan tentang Allah akan selalu bersanding dengan pengetahuan tentang diri sendiri. Banyak orang yang menyadari bahwa dirinya berbuat dosa, lalai dan hatinya lebih keras daripada batu, namun di sisi lain ia tidak berusaha untuk memperbaikinya. Pengetahuan seperti ini tak ada gunanya sama sekali. Pengetahuan tentang diri yang bermanfaat adalah ketika ia tahu batasan-batasan dirinya, dan tidak melewatinya. Mengetahui bahwa dirinya adalah milik Allah, dari Allah dan akan kembali kepada Allah Subhânahu wata`âlâ. Allah berfirman (yang artinya): “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka menciptkan diri sendiri.” [QS. Ath-Thûr: 35]. Jika demikian halnya, apakah layak kita berbuat hal yang tidak diridhai Allah?
3. Meyakini ancaman Allah. Cobalah kita bayangkan diri kita berada di salah satu sudut Neraka Jahannam, pintunya tertutup, atapnya tersegel, gelap gulita, tiada teman menemani, tiada tempat mengadu, tidak pernah bisa tidur, dan tidak ada kematian yang mengistirahatkannya… Sehingga penyesalan tersebut menyebabkan (yang artinya): “Pada hari itu orang yang zalim menggigit kedua tangannya.” [QS. Al-Furqân: 27]. Bayangkan panasnya api neraka yang menyambar-nyambar, yang bahan bakarnya adalah batu dan manusia. Bayangkan makanan api neraka berupa zaqqûm, pohon berduri di dalam neraka, dan minum dengan logam panas yang meluluhlantakkan isi perut mereka… Yakinilah bahwa itu semua nyata dan bukan khayalan. Yakinilah bahwa semua itu tiada akhirnya dan tiada berkesudahan. Apakah kita masih mampu berbuat dosa tanpa menyesalinya? Sungguh, jika jiwa sudah tidak yakin terhadap ancaman Allah, maka jiwa tersebut akan rusak yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya…
Keempat: Bertekad Untuk Tidak mengulangi Dosanya.
Banyak orang yang bertobat, namun dalam hatinya berkata, “Aku tahu bahwa aku akan melakukannya lagi…” Janganlah sampai terdetik dalam hati kita perkataan seperti itu, namun ucapkanlah kepada diri kita sendiri, “In syâ Allah aku tidak akan kembali melakukannya. In syâ Allah aku akan meninggalkannya.” Setelah bertekad, lalu mintalah pertolongan Allah. Ada lagi sebagian orang yang tertipu oleh syaitan yang membisikkan di hatinya, “Sungguh engkau tak akan mampu meninggalkan dosamu. Bertobatlah, tapi nanti kau lakukan lagi.” Celotehan-celotehan seperti ini sama sekali tidak layak ada di pikiran kita. Hendaknya kita bertobat, lalu yakinkan diri bahwa kita tidak akan mengulanginya.
Namun bagaimana, karena derasnya arus fitnah dan rusaknya zaman sekarang, seseorang terjerumus kembali ke dalam dosa yang telah lalu setelah ia bertobat darinya? Apakah tobatnya tidak bermanfaat. In syâ Allah tobatnya tetap bermanfaat, selama ia bertekad untuk tidak kembali melakukannya. Syaikh Ibnu `Utsaimin Rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya yang diminta adalah tekad untuk tidak mengulangi. Jika ternyata ia mengulangi, maka bertobatlah, kemudian bertekad lagi yang lebih kuat, dan demikian seterusnya sampai ia mampun meninggalkannya sama sekali…” Tekad yang kuat, diiringi meminta pertolongan Allah Subhânahu wata`âlâ, akan menjadikan diri sanggup menjauhi perbuatan dosanya.
Kelima: Meninggalkan Kebiasaan Buruk.
Ketika kita bertobat kepada Allah Subhânahu wata`âlâ, kebiasaan buruk kita yang terdahulu bagaikan tali karet yang mengikat kita. Tali tersebut mengikuti kemana kita pergi, tapi ketika mencapai limitnya, maka tali tersebut akan menarik kita kembali ke tempat semula. Oleh karena itu, lepaskanlah paku tempat tali kebiasaan lama itu mengikat dirinya kepada kita, maka kita akan mampu meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Kebiasaan buruk adalah musuh bebuyutan ibadah, maka perbanyaklah ibadah untuk meninggalkan kebiasaan buruk.
Keenam: Belajar Cara Bersabar Untuk Tidak Bermaksiat.
Ibnul Qayyim Rahimahullah, dalam kitab Tharîqul Hijratain mengatakan, bahwa bersabar untuk tidak melakukan perbuatan maksiat/dosa muncul dari beberapa sebab: 
1. Mengetahui akan buruknya dan nistanya perbuatan maksiat.  Firman Allah (yang artinya): “Katakanlah, sesungguhnya Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.” [QS. Al-A`râf: 33]. Dari ayat ini sudah jelas, bahwa tidak ada satupun yang Allah haramkan, tidak ada hal yang Allah larang, kecuali itu adalah perbuatan keji yang tidak layak dilakukan oleh manusia manapun.
2. Malu kepada Allah Subhânahu wata`âlâ. Firman Allah (yang artinya): “Barangsiapa yang takut kepada Kedudukan Rabb-nya akan mendapat dua surga.” [QS. Ar-Rahmân: 46]. Lihatlah janji Allah kepada mereka yang taat kepada-Nya. Hendaknya kita merasa malu kepada Allah yang telah menciptakan kita dan memenuhi kebutuhan kita, namun masih akan memberikan kita balasan yang besar jika kita taat. Padahal Allah sama sekali tidak butuh terhadap peribadatan manusia kepada-Nya, tapi manusialah yang butuh beribadah kepada Allah agar Allah mencurahkan rahmat-Nya dan memberikan ridha-Nya.
3. Memelihara dan Memerhatikan Nikmat Allah Padanya. Firman Allah (yang artinya): “Hal itu, karena Allah tidak akan merubah nikmat yang telah Allah berikan kepada satu kaum, sampai kaum tersebut merubahnya sendiri. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mahatahu.” [QS. Al-Anfâl: 53]. Lihatlah, bagaimana Allah mencurahkan hujan dari langit sebagai nikmat dan rahmat dari-Nya. Namun karena ulah manusia sendiri yang tidak taat terhadap ajaran Allah Subhânahu wata`âlâ maka nikmat ini berubah menjadi bencana yang memporak porandakan kehidupan manusia. Nikmat yang tidak dipelihara akan berubah menjadi azab bagi orang yang mempunyainya, baik di dunia maupun di akhirat.
4. Takut Kepada Allah. Jika kita tidak mampu untuk merasa malu terhadap Allah, maka hendaklah kita merasa takut kepada Allah, karena Allah Maha Keras azab-Nya. Rasa takut kepada Allah harus tetap dipelihara, karena dengan demikian hati kita akan menjadi lembut dan siap untuk menerima hidayah.
5. Mencintai Allah. Jika kita mencintai seseorang, apakah kita akan menyelisihinya? Bagaimana jika yang dicintai adalah Dzat Yang Mahakuasa? Sesungguhnya seseorang akan taat kepada orang yang dicintainya, karena ketaatan adalah tanda cinta yang sebenarnya. Aqidah Ahlussunah wal Jama`ah menyebutkan, bahwa seorang muslim beribadah kepada Allah karena cinta kepada-Nya, takut dari neraka-Nya dan mengharap kemuliaan-Nya sehingga Dia memberikan padanya surga-Nya.
6. Kemuliaan jiwa beserta Kecerdikannya. Jiwa yang mulia tidak akan melakukan perbuatan maksiat, karena perbuatan maksiat akan menjatuhkan kedudukannya dan merendahkan martabatnya yang telah diangkat Allah. Dengan berbuat maksiat, maka seseorang telah merelakan dirinya berada di kalangan orang-orang yang kotor, bodoh, tercela dan sifat-sifat buruk lainnya.
7. Kekuatan Ilmu tentang Buruknya Akibat dari Perbuatan Maksiat. Sebuah perbuatan, perbuatan apapun yang baik atau yang buruk, akan meninggalkan satu kesan atau akibat. Jika perbuatan itu baik maka akan baik akibatnya, jika perbuatan itu buruk maka akan buruk akibatnya. Hendaknya kita mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa perbuatan maksiat akan menyebabkan akibat yang buruk, di dunia dan di akhirat. Akibat-akibat dari perbuatan maksiat di antaranya: Menjadi tawanan musuhnya, baik yang nyata yaitu manusia lainnya, atau yang tersembunyi yaitu syaitan dan hawa nafsunya. Rasa aman berganti dengan ketakutan, selalu merasa kesepian dan sendirian walaupun berada di antara rekan-rekannya, selalu merasa sedih dan gundah walaupun dunia dalam genggamannya, dan banyak hal lagi. Tak jarang orang yang bermaksiat nekad untuk mengakhiri hidupnya untuk menghilangkan akibat buruk dari perbuatan maksiatnya tersebut. 

Subhânakallâhumma wabihamdika asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaihi.

BERIKUT INI RUKUN-RUKUN TOBAT! BERIKUT INI RUKUN-RUKUN TOBAT! Reviewed by Wahana Ytube on Wednesday, January 16, 2019 Rating: 5

INILAH 5 TEKNOLOGI TERBARU 2019!

Friday, January 11, 2019
1. Mesin 3-D Metal Printing
Mesin 3-D Metal Printing

Terobosan: Sekarang Printer dapat membuat objek metal dengan lebih cepat dan murah.
Mengapa penting: Kemampuan untuk membuat benda-benda logam besar dan kompleks sesuai permintaan, yang dapat mengubah operasional bisnis manufaktur.
Pemain Kunci: Markforger, Desktop Metal dan GE
Ketersediaan: Sudah ada saat ini.

2. Artificial Embryos alias Embrio Buatan

Artificial embryos alias embrio buatan

Terobosan: Tanpa menggunakan telur atau sel sperma, para peneliti telah membuat struktur mirip embrio dari sel induk (stem cells), menyediakan rute baru untuk menciptakan kehidupan.
Mengapa penting: Embrio buatan akan mempermudah para peneliti untuk mempelajari awal misterius kehidupan manusia, tetapi mereka berpotensi memicu debat dalam bioetika baru.
Pemain Kunci: Universitas Cambridge, Universitas Michigan dan Universitas Rockefeller
Ketersediaan: Sudah ada saat ini.

3. Artificial Intelligence (AI) untuk Semuanya

Artificial Intelligence (AI) untuk Semuanya

Terobosan: Cloud-based AI membuat teknologi lebih murah dan lebih mudah digunakan.
Mengapa Ini Penting: Sekarang penggunaan AI didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan, tetapi sebagai layanan berbasis cloud, layanan ini dapat tersedia secara luas untuk banyak hal, memberikan dorongan ekonomi.
Pemain Kunci: Amazon; Google dan Microsoft.
Ketersediaan: Sudah ada saat ini.

4. Zero-Carbon Natural Gas atau Gas Alami tanpa Emisi Karbon

Zero-Carbon Natural Gas atau gas alami tanpa emisi karbon

Terobosan: Pembangkit listrik secara efisien dan murah mampu menangkap karbon yang dilepaskan oleh pembakaran gas alam, menghindari emisi gas rumah kaca.
Mengapa Penting: Sekitar 32 persen dari listrik AS diproduksi dengan gas alam, terhitung sekitar 30 persen dari emisi karbon sektor energi.
Pemain Kunci: 8 Rivers Capital; Exelon Generation; dan CB & I.
Ketersediaan: 3-5 tahun mendatang.

5. Materials’ Quantum Leap

Materials’ Quantum Leap

Terobosan: IBM telah menyimulasikan struktur elektronik dari sebuah molekul kecil, menggunakan komputer kuantum tujuh qubit.
Mengapa Penting: Memahami molekul secara rinci akan memungkinkan ahli kimia untuk merancang obat yang lebih efektif dan bahan yang lebih baik untuk menghasilkan dan mendistribusikan energi.
Pemain Kunci: IBM; Google dan Alán Aspuru-Guzik dari Harvard.
Ketersediaan: 5-10 tahun mendatang.


Itulah terobosan teknologi terbaru dari Berita Dua tahun 2019. Yang mana yang paling canggih menurutmu? Yang mana pula yang paling bermanfaat bagi mayoritas orang? Share pendapatmu di kolom komentar ya!

INILAH 5 TEKNOLOGI TERBARU 2019! INILAH 5 TEKNOLOGI TERBARU 2019! Reviewed by Wahana Ytube on Friday, January 11, 2019 Rating: 5

INI DIA PENGHALANG TOBAT

Friday, January 11, 2019


PENGHALANG TOBAT 
H. Danni Nursalim Harun, Lc. Dipl. I.S.

Bismillâhirrahmânirrahîm. Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasûlullah beserta keluarga dan para shahabat beliau. Ammâ ba`d.

Kaum Muslimîn yang dimuliakan Allah.
Pada beberapa kesempatan yang lalu kita telah membahas beberapa alasan yang mendorong kita untuk selalu bertobat kepada Allah Subhânahu wata`âlâ. Namun demikian, ternyata bertobat tidak semudah yang dibayangkan. Bukan karena tobat itu sulit, sekali-kali bukan. Tobat itu mudah dikerjakan jika seseorang mau melaksanakannya. Persoalannya adalah pada kemauan tobat itu yang kadang ada, sering hilangnya. Sehingga seseorang menunda-nunda waktu untuk bertobat karena merasa belum waktunya, sampai tiba-tiba ajal menjemputnya tanpa diduga-duga, dan ketika tersadar semuanya telah terlambat… 
Pada kesempatan ini, marilah kita melihat beberapa hal yang menghalangi seseorang untuk bertobat, sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Muhammad Husein Ya`qûb Hafizhahullâh. Beliau mengatakan, bahwa ada tujuh hal yang menghalangi seseorang untuk bertobat.
Halangan Pertama: Hati Terpaut dengan Dosa.
Terkadang hati terpaut dengan dosa, baik itu perempuan, rokok, harta, mencintai diri sendiri, memuja kenikmatan, dan semua hal yang berkaitan dengan dosa serta maksiat. Hati jika sudah terpaut dengan sesuatu akan sangat sulit untuk melepaskannya, bagaikan seseorang disuruh untuk melepaskan pujaan hatinya yang dirinduinya siang dan malam. Lihatlah bagaimana orang yang sudah kecanduan  dengan narkoba, bagaimana sulitnya dia melepaskan diri darinya. Bahkan jika kita mau melihat sejarah perjuangan Nabi Muhammad Shallallâhu `alaihi wa sallam, kita akan mengetahui penyebab utama orang-orang Kafir Quraisy enggan untuk menerima Islam, bukan karena mereka tidak percaya akan kebenaran Islam, sebab mereka tahu bahwa Nabi Shallallâhu `alaihi wa sallam bukanlah seorang pendusta, tapi karena mereka tidak bisa melepaskan diri dari keterpautan hati mereka dengan berhala-berhala dan keyakinan mereka yang diwariskan turun temurun. Allah Subhânahu wata`âlâ mengabadikan perkataan kaum Nabi Syu`aib `Alaihissalâm sebagai peringatan untuk umat sampai akhir zaman (yang artinya): “Mereka berkata: Hai Syu`aib, Apakah shalatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki dengan harta kami.” [QS. Hûd: 87]. Lihatlah, bagaimana keterkaitan hati kaum Nabi Syu`aib dengan dosa-dosa mereka, sehingga mereka enggan untuk melepaskannya, bahkan mereka malah mengejek Nabi Syu`aib `Alaihissalâm. Untuk menghilangkan keterpautan hati dengan dosa ada beberapa cara yang harus dilakukan, yang in syâ Allah akan diterangkan kemudian.
Halangan Kedua: Anggapan Bahwa Tobat dan Taat Itu Berat dan Sulit.
Ini merupakan pekerjaan syaitan dan jiwa yang menyuruh kepada keburukan. Tobat digambarkan oleh syaitan sebagai sebuah tanjakan yang terjal dan berliku, sulit untuk diraih, atau bagaikan lautan api yang akan membinasakan siapapun yang menyeberanginya. Sebagian orang jika dikatakan kepadanya, “Bertobatlah…” Dia akan berkata kepada anda, “Tobat ini sangat sulit untuk saya…” Mungkin kita melihat seorang perokok berkata, “Saya sudah 20 tahun merokok dan saya berniat untuk berhenti. Tapi bagaimana saya bertobat, sedangkan racun rokok sudah menyerap ke dalam tubuh saya sehingga saya tak mampu meninggalkannya…” Mereka yang bermaksiat pada dasar hatinya mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan adalah perbuatan buruk, namun mereka selalu mencari argumen untuk membenarkan perbuatan mereka. Kemudian syaitan membisikkan ke telinga mereka bahwa jika mereka bertobat mereka harus meninggalkan semua “kenikmatan” yang mereka rasakan selama ini. Tak lupa syaitan meyakinkan bahwa jika telah bertobat maka banyak aturan-aturan yang mengikat ruang gerak mereka sehingga mereka akan mendapatkan kesusahan dalam hidup. Tentu saja semua itu hanyalah tipu daya yang akan termakan oleh orang yang lemah hatinya minim ilmunya. Adapun orang yang berilmu dan kuat hatinya akan mengetahui bahwa tobat itu tidak seberat, tidak sesulit dan tidak sekejam yang dibayangkan…
Halangan Ketiga: Mencari Uzur dan Pembenaran atas Dosanya.
Di antara penghalang tobat yang paling berbahaya adalah ketika seorang muslim berkata kepada seorang perempuan, “Engkau terlihat mutabarrijah/bersolek, kenapa engkau tidak memakai kerudung…?” Maka perempuan itu menjawab, “Sungguh kondisi saya mendesak untuk ini… Suami saya tak suka saya berkerudung, demikian juga ayah saya…” Juga perkataan lain, “Apa mau dikata, pekerjaan saya menuntut saya melepaskan kerudung…” Inilah yang disebut mencari-cari alasan pembenaran, yang berdasarkan hawa nafsu belaka. Penyakit inilah yang sering melanda para pemuda pergerakan dewasa ini. Allah Subhânahu wata`âlâ memperingatkan bisikan syaitan tentang hal ini (yang artinya): “Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?” [QS. Fâthir: 8]. Untuk itulah seringkali terdengar orang yang berapologi ketika tertangkap basah menghasilkan harta dengan cara yang haram atau ilegal, bahwa dia terpaksa melakukannya karena untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang meningkat, padahal pemasukan dia sudah di atas rata-rata…
Halangan Keempat: Tertipu dengan Tirai Allah atas Dosanya dan Berpaling dari Nikmat-Nya.
Sebagaimana pernah diterangkan bahwa jika seorang hamba berdosa, maka Allah akan menutupi dosanya agar tidak diketahui orang lain. Lalu kemudian orang yang berdosa itu menganggap bahwa dosanya tidak diketahui orang lain dikarenakan perencanaannya yang baik, dan tak pernah terpikir olehnya bahwa tertutupnya dosa dia dikarenakan tirai yang ditutupkan Dzat Yang Maha Pemurah. Ketahuilah, jika seseorang melakukan perbuatan dosa dan maksiat berkali-kali tanpa diketahui siapapun, maka itu bukanlah nikmat, tapi itu adalah istidrâj. [HR. Ahmad 16860]. Allah Subhânahu wata`âlâ tidak melalaikannya tapi memberinya kesempatan, apakah akan bertobat atau malah semakin menjadi-jadi…? Jangan pernah menyangka dikabulkannya doa adalah sebuah karâmah, karena boleh jadi Allah mengabulkan permintaan seorang hamba padahal Allah membencinya, sehingga pemberian-Nya tersebut menjadi sebab kehancuran hamba tadi. Bukankah Allah mengabulkan permintaan Iblîs, padahal dia adalah makhluk yang paling Allah benci…?
Halangan Kelima: Dosa yang Dilakukan Berkaitan dengan Hukum yang Ditakuti oleh Pendosa jika Dia bertobat.
Contohnya seorang pezina yang bertobat, ia mendengar firman Allah yang mengatakan bahwa seorang pezina tidak akan menikah kecuali dengan pezina juga [QS. An-Nûr: 3], maka dia berkata kepada dirinya sendiri, “Buat apa saya bertobat jika nanti hasilnya sama saja?” Dia tidak mempelajari lebih lanjut tentang penafsiran ayat di atas, tapi menyimpulkan sendiri dengan ilmunya yang terbatas. Atau pezina tadi menyangka bahwa jika dia bertobat dari perbuatan zinanya, dia harus dicambuk 100 kali atau dirajam sampai mati, sehingga dia merasa gentar dan mengatakan, “Biarlah aku tanggung dosa ini asalkan nyawaku selamat…” Dia tidak pernah menanyakan orang yang berilmu tentang hal tersebut. Demikianlah syaitan akan terus membisikkan dan menghasut di telinga serta hati orang yang berbuat dosa dengan mengatakan, “Engkau takkan sanggup menerima konsekwensi dari tobatmu…” Padahalnya seharusnya dia bertanya kepada para ulama yang dipercaya tentang hal yang meragukannya tersebut, tidak hanya berdiam diri dan menyimpulkan sendiri. Jikalau memang harus ada konsekwensi berat dari dosa yang diperbuatnya dan dia ingin bertobat darinya, maka bayangkanlah bahwa ridha Allah jauh lebih besar dari kesusahan atau rasa sakit yang mungkin di alami sesaat selama di dunia. Ya, hanya sesaat, karena ridha Allah di akhirat nanti abadi, tak berbatas…
Halangan Keenam: Berbagai Ujian yang Menimpa Orang yang Bertobat.
Seringkali kita melihat orang yang bertobat mendapatkan berbagai ujian hebat yang terkadang kita bertanya-tanya, apakah kita mampu menghadapinya? Sebagai contohnya: Seseorang yang baru masuk Islam, biasanya dia akan mendapatkan ujian-ujian yang berat, mulai dari pemutusan hubungan keluarga, rizki yang tersendat, keluarga yang tercerai berai, dan tak jarang ada yang harus bertaruh nyawa untuk mempertahankan keislamannya. Seseorang yang ingin meninggalkan pekerjaan yang haram telah membayangkan di depan mata bahwa dia akan sangat sulit mencari rejeki, atau pendapatannya akan turun drastis. Seorang pegawai yang berusaha untuk jujur di lingkungan yang korup, membayangkan bahwa dia akan mendapatkan tekanan dari berbagai fihak, apalagi jika dia hanyalah seorang bawahan yang tidak mempunyai wewenang apapun. Seorang pedagang yang ingin berjualan dengan jujur membayangkan bahwa pemasukannya akan menurun drastis, dan mungkin akan diboikot oleh sesama rekan pedagangnya yang tidak jujur. Serta banyak lagi hal-hal berat, pahit dan sulit yang terbayang di depan seseorang yang ingin bertobat, sehingga dia mengurungkan niat tobatnya. Padahal Allah Subhânahu wata`âlâ berfirman (yang artinya): “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguhAllah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [QS. Al-`Ankabût: 2-3].
Halangan Ketujuh: Keraguan yang Menerpa Hati Orang yang Bertobat.
Ibnu Qayyim Semoga Allah merahmatinya dalam Kitab Tharîqul Hijratain mengatakan, bahwa setiap orang yang baru bertobat pasti akan merasakan keraguan dan tekanan dalam hatinya. Dia merasa gundah gulana, sesak, sedih, dan takut akan tersesat jalan. Dia ragu apakah dia telah melakukan hal yang benar, dia bimbang kemana hendak dituju, dan dia merasa jiwanya merintih karena meninggalkan dosa yang selama ini menjadi belahan hidupnya. Keraguan dan kesesakan yang menimpa hati ini adalah pertanda hati masih hidup dan siap untuk menerima kebenaran. Jika hati telah mati, maka dia tidak akan merasa apapun. Bertobat dan tidak, tiada bedanya. Ketahuilah bahwa syaitan adalah pencuri keimanan, dan dia berusaha mencuri keimanan dari hati seorang hamba. Syaitan tidak akan pergi ke diskotik atau ke tempat lokalisasi dan perjudian, sebab tidak ada keimanan yang dapat dicuri di sana. Dia akan pergi ke tempat-tempat orang beribadah yang benar dan mencari ilmu agama, sebagaimana dia akan mencari orang-orang yang berusaha kembali kepada Allah Subhânahu wata`âlâ, karena di sanalah akan didapatkan keimanan. Ketika Ibnu Abbâs Semoga Allah meridhainya mendengar bahwa orang Yahudi tidak merasa waswas dalam sembahyang mereka, ia berkata, “Subhânallah… Bagaimana mungkin syaitan akan mengganggu syaitan lainnya…?” 
Itulah tujuh hal yang menghalangi seorang hamba untuk bertobat kepada Allah Subhânahu wata`âlâ. Semakin banyak penghalang tersebut itu dipunyai oleh seseorang, maka semakin sulit baginya untuk bertobat. Bahkan satu penghalang pun cukup untuk membuat seseorang menunda-nunda tobat, sehingga ajal menjemputnya. Namun perlu diketahui juga, semakin besar penolakan dan halangan yang didapatkan seseorang, menunjukkan betapa kuatnya hati orang tersebut. Hati yang kuat dan kokoh jika baik maka akan menjadi pimpinan kebaikan, dan jika buruk maka akan jadi pimpinan keburukan. Tentu saja syaitan tidak akan pernah membiarkan kebaikan itu ada, sehingga tarik menarik antara kebaikan dan keburukan akan selalu terjadi. Mudah-mudahan Allah Subhânahu wata`âlâ memudahkan seluruh umat Islam untuk bertobat, dan menguatkan umat Islam untuk menyingkirkan halangan-halangan tersebut. Âllahumma Âmîn.

INI DIA PENGHALANG TOBAT INI DIA PENGHALANG TOBAT Reviewed by Wahana Ytube on Friday, January 11, 2019 Rating: 5

Polres Rokan Hilir Sosialisasikan pengunaan pengaman Sabuk Kendraan Roda empat

Thursday, January 10, 2019





UJUNG TANJUNG - Satuan Lalu Lintas Polres Rokan Hilir kian gencar menggelar sosialisasi penggunaan sabuk pengaman (seatbelt) bagi pengguna kendaraan roda empat ke atas.



Kapolres Rokan Hilir AKBP Sigit Adiwuryanto SIK MH, Rabu (9/1/2019) melalui Kasat Lantas Polres Rokan Hilir AKP Jusli SH menuturkan, setiap pagi hari sejak Senin hingga Sabtu pihaknya kini terus mensosialisasikan penggunaan seatbelt di titik rawan pelanggaran.



"Setiap hari kerja Senin sampai Sabtu, pagi hari kami sosialisasikan. Sementara ini kami mulai di simpang benar, yakni simpang Solah dan simpang ujung tanjung," ungkapnya.



Jusli menegaskan, penggunaan seatbelt ini tentunya sangat penting bagi keselamatan pengemudi dan penumpang. Karena apabila terjadi benturan saat berkendara, seatbelt dapat menahan tubuh pengemudi ataupun penumpang terdorong ke depan. Sehingga, keselamatan pengemudi maupun penumpang dapat terjaga.



"Saat ini masih banyak ditemukan pengendara mobil yang tidak menggunakan seatbelt atau sabuk keselamatan ini. Padahal cukup 'klik' seatbelt-nya, yang hanya memakan waktu beberapa detik, tapi kita aman dan tenang saat mengendarai mobil," jelasnya.



Menurutnya, sosialisasi penggunaan seatbelt ini dilakukan pihaknya agar para pengemudi kendaraan dapat terus memiliki kesadaran dan terbiasa mengenakan alat keselamatan ini saat mengendarai kendaraannya.



"Karena kami sayang dan peduli terhadap keselamatan pengendara maupun penumpang mobil, sehingga kami akan terus mengingatkan, ya dengan bentuk sosialisasi ini," ujarnya. 




Sumber  : Riau Wicara
Polres Rokan Hilir Sosialisasikan pengunaan pengaman Sabuk Kendraan Roda empat Polres Rokan Hilir Sosialisasikan  pengunaan pengaman Sabuk Kendraan Roda empat Reviewed by Wahana Ytube on Thursday, January 10, 2019 Rating: 5

Dakwaan Dan Tutuan JPU Kandas di PN Rohil

Tuesday, January 08, 2019




UJUNG TANJUNG,Terdakwa Suhanda atas perkara Pencabulan diputus Bebas Oleh Majelis Hakim. Sidang putusan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Rokan Hilir , Kamis 3 Januari 2019 Pukul 15.30 Wib. 


Sedangkan Jaksa Penuntut Umum Kejari Rokan Hilir yang diwakili Rahmat Hidayat SH  sebelumnya menuntut Terdakwa Suhanda dengan Pasal 81 Ayat 1 UU  RI No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak selama 13 Tahun. 


Dalam Agenda Sidang Putusan  Terdakwa Suhanda yang selalu didampingin Penasehat Hukumnya Widargo SH MH, Jaharzen SH MH, Fithrizal SH MH demi mencari keadilan terhadap dirinya. 


Berdasarkan fakta di persidangan Majelis Hakim yang dipimpin oleh M Hanafi Insya SH MH, dengan didampingi oleh hakim anggota Lukman Nul Hakim SH MH dan Boy Jefri P sembiring SH.
menyatakan Terdakwa Suhanda tidak terbantahkan dan dibebaskan dari dakwaan dan hukum kebenaran.



banyak hal yang menjadi pertimbangan majelis hakim, sehingga diambil langkah hukum dengan memberikan putusan bebas pada Terdakwa.


“Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka Terdakwa  dinyatakan sah dan meyakinkan tidak melakukan tindak pidana pencabulan,” 


Sebelum persidangan ditutup oleh majelis hakim langsung menanyakan kepada JPU ada yang mau disampaikan mengenai Putusan Bebas tersebut. Kemudian dijawab oleh JPU Rahmat Hidayat SH akan melakukan Kasasi pak hakim. Tuturnya. 


Diluar persidangan saat awak media konfirmasi Penasehat Hukum Terdakwa Widargo SH MH mengatakan atas Putusan Bebas yang dibacakan oleh Majelis Hakim sudah sesuai.


Bahwa apa yang diuraikan oleh JPU tidak ada persesuaian antara keterangan saksi - saksi yang dihadirkan oleh JPU dipersidangan dan terdapat banyak kejanggalan serta cacat formil dalam proses penyidikan perkara pidana sehingga dapat diuraikan bahwa Terdakwa Suhanda bukanlah pelaku atau orang yang melakukan Tindak Pidana Persetubuhan dengan anak dibawah umur. Tuturnya.  (Darma)
Dakwaan Dan Tutuan JPU Kandas di PN Rohil Dakwaan Dan Tutuan JPU Kandas di PN Rohil Reviewed by Wahana Ytube on Tuesday, January 08, 2019 Rating: 5

MENGAPA BERTOBAT?

Monday, December 31, 2018
Oleh:
H. Danni Nursalim Harun, Lc. Dipl. I.S



Bismillâhirrahmânirrahîm. Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasûlullah beserta keluarga dan para shahabat beliau. Ammâ ba`d.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah.
Tobat adalah sebuah kata yang terkadang akrab di telinga umat Islam dan sering diserukan oleh para khatib dan da`i. Seiring dengan itu banyak orang yang tidak tahu untuk apa bertobat, kenapa harus bertobat. Mereka menganggap bahwa yang mereka kerjakan sudah baik dan benar. Mereka mengira bahwa segala kenikmatan dunia yang mereka miliki merupakan tanda bahwa mereka tidak perlu bertobat. Mereka menyangka bahwa bertobat hanya dilakukan di saat musibah melanda, wabah meluas dan kesusahan merajalela.  Tidak, sekali kali tidak. Tobat tetap harus dilakukan oleh setiap muslim walaupun dia merasa semua amalannya benar, walaupun merasa segala keinginannya dikabulkan Allah Subhânahu wata`âlâ, dan walaupun negeri yang ditempatinya terasa aman, makmur dan sejahtera. 

Semua persangkaan di atas tadi timbul, disebabkan kebodohan yang melanda umat Islam di masa sekarang ini. Mereka tidak merasa bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah sebuah maksiat, karena melihat banyak orang yang melakukannya. Mereka tidak tahu bahwa perbuatannya berdosa karena banyak da’i yang mendukungnya. Padahal jika mereka tidak berhenti mempelajari Islam sesuai yang diajarkan Rasûlullah Shallallâhu `alaihi wa sallam, mereka akan tahu bahwa mereka harus banyak bertobat dikarenakan banyaknya kesalahan yang telah dilakukan, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Agar kita mau bertobat dengan tobat nasuha sebagaimana perintah Allah Subhânahu wata`âlâ, maka hendaknya kita mengetahui alasan untuk bertobat. Dengan mengetahui alasan-alan untuk bertobat, maka niscaya tidak ada seorangpun yang akan melalaikan dirinya dari bertobat, kecuali jika hatinya telah tertutup dari kebenaran. Adapun alasan-alasan untuk bertobat itu adalah;

1. Bertobat untuk kembali ke jalan yang lurus. Seharusnya kita mengetahui, asal-usul penciptaan kita di muka bumi, untuk apa? Firman Allah (yang artinya): “Dan tidak sekali-kali Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.” [QS. Adz-Dzâriyyât: 56]. Ya, manusia diciptakan bukan untuk membangun bumi, memperbanyak keturunan, memperbanyak harta, apalagi untuk bermaksiat…! Manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah Subhânahu wata`âlâ, bukan yang lain. Semua yang dilakukan manusia hendaknya bernilai ibadah. Orang yang bermaksiat tidak disebut beribadah. Oleh karenanya dengan bertobat, seseorang kembali ke asal penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah, sebab tobat merupakan salah satu bentuk ibadah. Sungguh dengan kembali ke tujuan utama penciptaan manusia, kita akan mendapatkan berbagai kebaikan yang tidak disangka-sangka.

2. Bertobat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhânahu wata`âlâ. Firman Allah (yang artinya): “…dan bertobatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung…” [QS. An-Nûr: 31]. Dalam ayat lain (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman bertobatlah kalian kepada Allah dengan tobat nasuha…” [At-Tahrîm: 8]. Dalam kedua ayat tadi, dan banyak ayat yang lain, Allah memerintahkan kita untuk bertobat. Satu kaidah yang terkenal mengatakan, “Asal dari satu perintah adalah kewajiban, kecuali ada dalil lain yang menyelisihinya.” Dalam hal ini tidak ada satu dalilpun yang menyelisihi kewajiban tobat. Oleh karenanya tobat merupakan salah satu kewajiban yang harus ditaati setiap muslim. Barangsiapa yang enggan untuk bertobat, maka dia telah melepaskan ketaatan dirinya kepada Allah, sehingga dikhawatirkan akan menjadi orang yang ingkar kepada Allah Subhânahu wata`âlâ.

3. Menyelamatkan diri dari kezhaliman menuju kemenangan. Allah Subhânahu wata`âlâ berfirman (yang artinya): “…dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka adalah orang-orang yang zhalim.” [QS. Al-Hujurât: 11]. Zhalim artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Zhalim adalah kebalikan dari adil. Ketahuilah, pada ayat tersebut Allah telah menyatakan bahwa siapa saja yang enggan untuk bertobat, maka dia telah dicatat oleh Allah Subhânahu wata`âlâ sebagai orang-orang yang zhalim. Kenapa? Karena  dengan keengganan diri untuk bertobat berarti telah menyelisihi perintah Allah Subhânahu wata`âlâ, Sang Pencipta, Pemilik dan Pemelihara semesta alam. Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertobat sebagai salah satu bentuk ibadah, dan hamba yang tidak taat kepada perintah-Nya adalah hamba yang zhalim, karena tidak tahu hakikat dirinya serta tujuan penciptaannya.

Di sisi lain, Allah Subhânahu wata`âlâ telah memberikan kabar gembira kepada mereka yang mau bertobat, bahwa mereka akan akan mendapakan keberuntungan. Allah telah menggantungkan keberuntungan seseorang dengan kemauannya untuk bertobat kepadanya. Firman-Nya (yang artinya): “…dan bertobatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung…” [QS. An-Nûr: 31]. Ayat ini diturunkan di Madinah, Kota Nabi Shallallâhu `alaihi wa sallam. Ayat ini berbicara kepada kaum terbaik yang telah teruji keimanannya dan kesabarannya, yaitu kaum Muhajirîn dan Anshâr, bukan kepada Kafir Quraisy yang benar-benar bergelimang dosa dan kesalahan. Hal itu untuk menunjukkan bahwa tobat itu wajib oleh dilakukan oleh siapa saja yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan Hari Akhir, tanpa memandang siapa dan dimana, karena manusia adalah makhluk yang senantiasa lupa dan bersalah. Dan sebaik-baik manusia yang bersalah adalah mereka yang bertobat. Maka sungguh tidak diharapkan keberuntungan dari mereka yang enggan bertobat, sebab salah satu syarat untuk mendapatkan keberuntungan adalah bertobat.

4. Mencari kebahagiaan. Kebanyakan orang-orang yang bermaksiat hidup dalam kesenangan semu, kebahagiaan sementara dan kenikmatan yang fana. Bahkan jika mau ditelusuri lebih lanjut, sesungguhnya mereka tidak mendapatkan kebahagiaan sama sekali. Coba kita lihat, jika ada seseorang yang menikmati tanah sebagai makanannya sebagai pengganti makanan-makanan yang lezat seperti daging, ikan, ayam, sayur mayur dan yang lainnya, apa yang kita pikirkan? Apakah kita akan mengatakan indranya masih normal atau sebaliknya? Tentu kita akan mengatakan bahwa orang yang menikmati tanah dan kerikil sebagai makanan hariannya adalah orang yang tidak normal, dan perlu diobati. 

Demikianlah halnya orang yang bersenang-senang dan menikmati kemaksiatan, mereka sebenaranya adalah orang yang sakit. Mereka menikmati kemaksiatan bukan karena kemaksiatan itu lezat, bukan sama sekali. Tidak juga karena keburukan dan kejahatan itu menyenangkan, sekali-kali tidak. Semuanya terjadi dikarenakan perasaannya sudah sakit dan rusak. Orang seperti ini bagaikan orang yang berada di tengah-tengah gunungan sampah dengan bau berbagai macam, namun dia tidak merasakannya sama sekali. Tentu hal ini tidak boleh dibiarkan, tapi harus diobati dengan obat yang tepat. Sebab jika dibiarkan, dikhawatirkan perasaannya akan mati lalu jadilah dia seperti mayat berjalan.

Obat yang paling utama bagi mereka yang menikmati kemaksiatan adalah bertobat. Ya, dengan bertobat, seseorang akan tahu betapa buruknya kemaksiatan yang dia nikmati, dan betapa hinanya dosa yang dia sukai. Berapa banyak orang yang telah bertobat, mengatakan kepada dirinya sendiri, “Aduhai betapa kotornya diriku… Betapa buruknya diriku… Betapa meruginya diriku…”  Pada saat itu, dia tersadarkan bahwa dirinya telah tercampak ke dalam lumpur kenistaan yang menipu yang dia anggap sebagai pantai yang membiru, bagaikan orang yang tersadar betapa busuknya bau sampah yang ada di sekelilingnya.

Wahai para pemuda Islam, kalian tidak akan mendapatkan kebahagiaan dengan travelling, hura-hura, apalagi narkoba. Wahai para pemudi, sungguh kalian tidak akan mendapatkan kebahagiaan dengan mengumbar aurat dan mengundang syahwat kaum lelaki. Wahai orang-orang yang beriman, tidak akan ada kebahagiaan dalam menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Kebahagiaan yang hakiki adalah dalam beribadah kepada Allah. Sebab hanya Allah yang sanggup memberikan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat, maka carilah kebahagiaan tersebut dengan mencari ridha-Nya yang dimulai dengan bertobat kepada-Nya. Sungguh kebahagiaan yang di dapat bukan dari Allah tidak akan bertahan, bahkan akan diiringi dengan kesengsaraan yang akan mengoyak-ngoyak jiwanya.

Kenapa memberikan kebahagiaan kepada orang yang bertobat? Karena Allah gembira melihat hambanya yang bertobat. Mari kita perhatikan sebuah hadîts yang terkenal tentang masalah bertobat, Rasûlullah Shallallâhu `alaihi wa sallam bersabda: “Allah sangat berbahagia dengan tobatnya seorang mukmin. Bagaikan seseorang yang berada di tempat yang kering tanpa kehidupan bersama untanya yang mengangkut makanannya dan minumannya. Kemudian dia tertidur, dan ketika bangun untanya telah pergi. Dia pun mencarinya sampai kehausan, lalu berkata, “Aku akan kembali ke tempatku semula lalu aku akan tidur di sana sampai mati.” Kemudian dia meletakkan kepalanya di atas lengannya bersiap untuk mati. Kemudian dia terbangun dan mendapatkan untanya yang mengangkut perbekalannya dan makanannya. Sungguh Allah lebih berbahagia dengan tobatnya seorang mukmin dibandingkan orang yang mendapatkan kembali unta dan perbekalannya tersebut.” [HR. Al-Bukhâri 6308, Muslim 2744].

Lihatlah, bagaimana Allah begitu berbahagia dengan hamba-Nya yang bertobat, sehingga menghadiahinya kebahagiaan. Oleh karena itu janganlah heran, jika ada orang yang bertobat dengan tobat nasuha lalu mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Adapun orang yang hanya bertobat dengan mulutnya saja, maka tidak ada yang didapat.

5. Menyelamatkan diri dari adzab dan kesengsaraan. Allah Subhânahu wata`âlâ memanggil kita (yang artinya): “…larilah kepada Allah.” [QS. Adz-Dzâriyyât: 50]. Tobat artinya lari kepada Allah dari hawa nafsu, dari kemaksiatan, dari dosa-dosa, dari syaitan, dari jiwa yang menyeru kepada keburukan, dari syahwat, dan dari hal-hal yang semisalnya.  Kita lari hal itu semua, karena itulah yang akan menjermuskan kita ke dalam maksiat dan dosa, semua itulah yang bisa menyebabkan kita mendapatkan adzab Allah yang berujung kesengsaraan. Jika seseorang takut dari adzab Allah, maka cara yang terbaik untuk menghindarinya adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhânahu wata`âlâ, bukan dengan menjauhinya. Allah bukanlah manusia, yang jika ditakuti harus dijauhi. Semakin kita menjauhi Allah, maka Allah akan semakin murka. Sebaliknya jika kita melarikan diri kepada Allah dengan bertobat, mendekatkan diri kepadanya dengan keimanan, maka Allah akan memberikan kita keamanan dan kebahagiaan yang sebenarnya, yang hanya akan dirasakan oleh mereka yang merasakannya tanpa mampu mengungkapkan dengan bahasa apapun.

Dengan ini, sungguh tiada alasan lagi bagi mereka yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan Hari Akhir untuk tidak bertobat sesegera mungkin. Bertobatlah sebelum nyawa sampai di tenggorokan, karena manusia tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput. Bertobatlah sebelum Allah memberikan adzab-Nya di dunia, apalagi di akhirat. Bertobatlah sebelum matahari terbit dari ufuk barat, dimana keimanan dan tobat seseorang sudah tidak berguna lagi. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita untuk bertobat kepada-Nya dengan tobat nasuha.


Subhânakallâhumma wabihamdika asyhadu allâ ilâha illâ anta astaghfiruka wa atûbu ilaihi.

MENGAPA BERTOBAT? MENGAPA BERTOBAT? Reviewed by Wahana Ytube on Monday, December 31, 2018 Rating: 5
Powered by Blogger.